oleh

PB Formal Malut Tolak DOB Galela-Loloda, Usul DOB Loloda Pasifik

MALUT.LENTERA.CO.ID — Polemik terkait Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Galela-Loloda bukan hal yang baru, namun tidak menjadi problem substansial bagi masyarakat Loloda secara kolektif.

Ini dikemukakan oleh Sekertaris Umum Pengurus Besar Forum Mahasiswa Loloda (PB Formal) Maluku Utara, Ais Syarif Kofia. Dia mengatakan hal tersebut ditinjau dari kultur kebudayaan masyarakat, mulai dari prospek pemerataan pembangunan, poros perputaran ekonomi dan pusat pemerintahan.

“Loloda bukan daerah yang dimanfaatkan oleh tokoh politik,” kata Ais seperti rilis yang dikirim kepada redaksi, Minggu, 7 Juli 2019.

Sejarah pemisahan Loloda menjadi 2 Kabupaten, yakni Halmahera Utara dan Halmahera Barat, kata Ais, sebagai bukti nyata bukan sebagai alasan rentan kendali, tapi atas kepentingan politik.

Dasar tersebut menjadi pemecah kultur Loloda. Ais bilang, pemerataan pembangunan di Kecamatan Loloda, Halbar, sama sekali tidak ada.

Mahasiswa Univeristas Khairun itu, mengatakan jika ditinjau dari hasil petisi yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa kepada masyarakat Loloda, keinginan masyarakat berbeda dengan kepentingan warga Galela.

“Ini secara konstitusi hak masyarakat Loloda, karena Loloda diberbagai sektor ekonomi tentunya unggul, apalagi kemaritiman, dan masyarakat Loloda tidak mau bergantung ke daerah lain,” terang mahasiswa Jurusan Kehutanan itu.

Dalih tersebut, papar Ais, jadi dasar masyarakat Loloda untuk meminta Otonomi sendiri menjadi Daerah Otonomi Khusus (DOB) Loloda Pasifik. “Itu hak konstitusionalnya”

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan mengusulkan ke pemerintahan pusat dan akan dilaksanakan. Ini menurut dia sudah banyak dukungan dari berbagai kalangan terutama masyarakat Loloda.

“Jadi DOB Galela-Loloda (Galda) tak semestinya menjadi isu publik yang diresap masyarakat Loloda, jadi saya berharap masyarakat Loloda tenang,” ujar dia menghimbau.

Reporter/editor: Ajun

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *