oleh

Akademisi: Dinas Pertanian Kepsul Tidak Serius Soal Pembangunan Sawah Didua Desa Mangoli

MALUT.LENTERA.CO.ID — Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Maluku Utara (Malut), telah mengalokasikan anggarkan pembangunan sawah di 2 (dua) Desa Kecamatan Mangoli, Kepsul.

Desa Trans Modapuhi Kec. Mangoli Utara dengan anggaran senilai senilai Rp 4. 826.417. 000.00 untuk lahan sawah seluas kurang lebih 300 Hektar (Ha)dan Desa Kaporo Kec. Mangole Selatan dengan anggaran senilai Rp 9,5 Milyar untuk lahan sawah seluas 40 Ha.

Hal ini mendapat sorotan dari Akademisi STAI Babussalam Sula, Sahrul Takim, kepada reporter lentera.co.id, Rabu 26 juni 2019. Dia mengapresiasi program Pemerintah Daerah dalam bidang pertanian yang menjadikan Kabupaten Kepulauan Sula sebagai Kabupaten Swasembada Beras.

Namun, kata dia, hal ini mestinya diwujudkan dalam mendorong peningkatan kesejahteraan petani. “Olehnya itu, Kami meminta dinas pertanian Kepsul lebih seriusi program penanaman padi di desa trans Modapuhi dan Kaporo,” pintanya

Menurut Sahrul, kedua Desa itu seharusnya di jadikan sasaran sekaligus desa percontohan dari capaian dinas pertanian untuk program penanaman padi biar dapat memotivasi masyarakat desa lainnya agar bisa merubah kultur bertani petani.

“Sebab, menanam padi adalah hal baru bagi sebagian desa di kabupaten Kepulauan Sula,” jelas Dosen STAI Babussalam Sula ini

Dinas Pertanian Kepsul, menurutnya, harus lebih fokus mendorong kedua Desa yang sudah di anggarkan dengan miliaran rupiah itu untuk pembangunan sawah atau penanaman padi agar berhasil dan padi dapat memproduksi beras sesuai yang di impikan dalam visi misi Pemda “menjadikan kabupaten kepulauan Sula sebagai swasembada beras”

“Karena pantauan saya pengurusan pembangunan sawah dan penanaman padi untuk Desa Trans Modapuhi sejak tahun 2016 dan Desa Kaporo sejak Tahun 2018 hingga kini belum menunjukkan spirit yang di cita-citakan Pemda Kepsul dalam visinya di bidang pertanian,”singgung Takim sapaan akrab.

Belum lagi, kata Sahrul, pembinaan sumber daya petani untuk penanaman padi mesti menjadi fokus tersediri, karena kultur pertanian kita berbeda, sehingga perlu adanya pelatihan, pembinaan hingga masyarakat dapat benar-benar fokus. dan menjadikan program pemerintah ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

“Kami melihat di lokasi khususnya di Kaporo dan trans Modapuhi, masyarakat mulai meninggalkan pekerjaan menanam padi dan kami menganggap dinas pertanian tidak serius menanggapi visi Bupati kepulauan Sula untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mewujudkan swasembada beras di kepulauan Sula malah justeru sibuk membuka lahan baru dan akan terbengkalai yang berujung kesia-siaan,”tegasnya.

Reporter: Irwan Fokatea
Editor: Ajun

Download

Tentang Penulis: Reporter SULA, Irwan FOKATEA

Reporter SULA, Irwan FOKATEA
IRWAN FOKATEA adalah Reporter Lentera.co.id sekaligus Kontributor dan Pembimbing Om Desa yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *