oleh

Peringati Harla ke 8, SC MU Gelar Dialog Publik: Kristalisasi Gerakan Mahasiswa

MALUT.LENTERA.CO.ID – Dalam rangka memperingati hari lahir (Harla) Sekolah Critis Maluku Utara (SC-MU) yang ke 8 pada Sabtu, 15 Juni 2019 di Aula Man Model Kota Ternate, Komunitas SC-MU menggelar dialog publik bertajuk: “Kristalisasi gerakan mahasiswa”.

“Harapan kami selaku pengurus, dialog public harla SC yang ke 8 tahun ini bisa mengembalikan tradisi aktifis mahasiswa agar kembali kepada tradisi membaca, diskusi dan demonstrasi, karena saat ini berdasarkan kajian kami, terlalu banyak masalah di Maluku Utara terutama masalah ekologi yang disebkan investasi pertambangan,” ujar Koordinator SC-MU, Aslan Sarifuddin kepada reporter media.

Ditambahkan, provinsi Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan dan rempah-rempah sudah harus selalu dijaga dari ancaman ekologi. Maka salah satu caranya yaitu mahasiswa harus kembali turun ke jalan untuk menjadi pengontrol setiap kebijakan pemerintah yang terkesan memberikan keleluasaan kepada pengusaha.

Direktur Walhi Malut, Fahrizal Dirhan yang diundang sebagai pemantik ini menerangkan, bahwa Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di provinsi Maluku Utara sebanyak 313. Dari jumlah ijin tersebut, dipastikan Malut menghadapi masalah ekologi yang sangat besar karena IUP yang dikeluarkan dan daratan Maluku Utara tidak seimbang.

Penjelasan lain disampaikan dewan Suro SC, Mael Soenardi yang juga sebagai pemantik kedua ini menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa harus lebih diintenskan karena ancaman ekologi bersumber dari perkoncoan antara elite politik dan para pemodal yang memiliki kepentingan dalam sektor pertambangan.

“Kita harus memahami bahwa masalah ekologi ini bersumber dari kebijaksanaan para pemerintah yang memberikan ijin, maka tugas kita selaku kaum intelektual adalah menyuarakan kebijakan yang merugikan masyarakat ini agar dapat diketahui oleh masyarakat sebagai subyek pembangunan,” tegasnya.

Sementara itu, pendiri SC-MU, Al’Wanto H. Ishar dalam sambutanya mengajak kepada seluruh elemen gerakan untuk terus mengawetkan gerakan mahasiswa sebagai satu upaya kontrol terhadap masalah sosial.

“Semua organisasi Gerakan di Maluku Utara ini tercipta tak lain untuk menjadi wadah orang-orang sadar yang bisa mengkritik kebijakan pemerintah, yang menurut kajian kita akan merugikan masyarakat sekaligus sebagai ancaman kemiskinan,” bebernya. []

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *