Kondisi Perempuan Papua: Diperkosa, Dibunuh, hingga Menuntut Hak Penentuan Nasib Sendiri

BERITA TERKAIT

HRD PT. Tekindo Energi tak Tahu Jumlah Karyawan yang Diberhentikan

LENTERA MALUT -- HRD PT. Tekindo Energi, Antoni mengaku tidak mengetahui jumlah karyawan yang diberhentikan oleh PT. Tekindo Enegri...

Meneladani Sang Proklamator dan Presiden RI ke T, DPC PDIP Halteng Tanam 100 Pohon Rambutan

LENTERA MALUT -- DPC PDI Perjuangan Kabupaten Halmahera Tengah menanam 100 pohon rambutan di kilo meter 3 Desa Fidi...

PT. IWIP Dituntut Tanggung Jawab Atas Kecelakaan Kerja Seorang Buruh

LENTERA MALUT - Menyikapi kecelakaan kerja seorang buruh tambang PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT. IWIP), Sekolah Kritis...

TERNATE, LENTERA.CO.ID – “Kalau kita mau belajar dan melihat apa itu penindasan, maka Bangsa Papua adalah contoh yang paling nyata untuk jadi fakta,” ujar aktivis Pembebasan, Erlanawati diacara diskusi bertajuk “Kondisi Perempuan Papua”, di Taman Soe Hok Gie, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Univ. Khairun Ternate, pada Rabu, 15 Mei 2019.

Diskusi ini merupakan rangkaian programatik yang diadakan oleh Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Komisariat Unkhair II, Ikatan Mahasiswa Papua (IMP) dan Komunitas Mahasiswa Papua (KMP).

Menurut Lana, sapaan akrab mahasiswa Sastra itu, jika bicara tentang Papua, maka tidak bisa terlepas dari penindasan yang dilakukan militerisme Indonesia terhadap bangsa Papua. Hal ini berkelindan dengan penindasan yang dialami perempuan Papua.

Perempuan Papua, kata lana, mengalami penindasan secara masif melalui sistem patriarki dan kolonialisme Indonesia. Patriarki sendiri adalah aturan yang dibuat kaum laki-laki dalam rumah tangga untuk melanggengkan penindasan.

Lana mencontohkan seperti perempuan yang sudah menikah dan jika maharnya tinggi, maka si lelaki bisa melakukan apa saja. Selain itu, dari faktor pendidikan dan kesehatan yang minim. Perempuan papua paling banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan.

Dilain sisi, Kordinator Ikatan Mahasiswa Papua, Santi, mengatakan pelanggaran Ham di Papua terus terjadi, kekerasaan terhadap perempuan kian meningkat hingga berujung tragis, diperkosa lalu dibunuh.

“Bahkan ketika perempuan papua mau keluar dan melawan bentuk kejahatan dan kekerasan, di batasi bahkan sampai tingkat kematian pun dialami,” cerita Santi

Ini semua, tambah Santi, secara sistematis dilakukan oleh Pemerintah Indonesia guna membunuh aktivitas politik rakyat west Papua.

Pembicara dari KMP, Hanna Mabel, mengatakan hal serupa. Ia mengenang berbagai kejadian suram yang dialami rakyat Papua. Penindasan, kata dia, sudah menjadi seperti makanan hari-hari. “Akibatnya perempuan mengalami pembatasan pada rana publik dan privasi,” tambahnya.

Diakhir diskusi, mereka membacakan sikap politik untuk terus memperjuangkan hak-hak ekonomi dan politik rakyat Papua dan hak kaum perempuannya.

“Ketertindasan bukan untuk diam tapi untuk dilawan. Karena menngembalikan hak dasar perempuan papua bukan tentang makan minum tapi soal identitas,” tandasnya.

Selain itu, orang Papua harus membuka diri ke lingkungan sosial luar, belajar, berdiskusi, membaca buku agar lebih banyak tahu soal permasalah ini. Karena, menurut mereka, Papua tidak akan pernah bebas dari penindasan apabila masih terikat dalam bingkai NKRI.

Artinya, tambah dia, Papua berhak lepas dari bingkai kolonialisme Indonesia, atau hak menentukan nasib sendiri. (Ajun)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -Download

BERITA TERKINI

HRD PT. Tekindo Energi tak Tahu Jumlah Karyawan yang Diberhentikan

LENTERA MALUT -- HRD PT. Tekindo Energi, Antoni mengaku tidak mengetahui jumlah karyawan yang diberhentikan oleh PT. Tekindo Enegri...

Meneladani Sang Proklamator dan Presiden RI ke T, DPC PDIP Halteng Tanam 100 Pohon Rambutan

LENTERA MALUT -- DPC PDI Perjuangan Kabupaten Halmahera Tengah menanam 100 pohon rambutan di kilo meter 3 Desa Fidi Jaya Kecamatan Weda Kabupaten Halteng,...

PT. IWIP Dituntut Tanggung Jawab Atas Kecelakaan Kerja Seorang Buruh

LENTERA MALUT - Menyikapi kecelakaan kerja seorang buruh tambang PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT. IWIP), Sekolah Kritis Maluku Utara (SC-MU) melakukan demostrasi...

Ombudsman Minta Dinas Pendidikan Prov. Malut Tegas Soal Pungutan

LENTERA MALUT -- Pungutan yang dilakukan oleh SMA Negeri 1 Halteng kini membuat Ombudsman RI perwakilan Provinsi Maluku Utara angkat bicara. Pasalnya, menjelang Ujian...

Panwas Tingkat Desa di Taliabu Barat Sudah Dibuka

LENTERA MALUT - Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam), Kecamatan Taliabu Barat (Talbar), telah membuka rekrutmen panitia pengawas kelurahan atau Desa. Koordinator Devisi (Kordiv), Hukum dan Pencegahan...
- Advertisement -

Terpopuler

Suku Akejira Terusik dari Ancaman Ekspansi Lahan Tambang

LENTERA MALUT -- Perusahaan tambang nikel PT. Indonesia Weda Bay Industrisal Park (PT. IWIP) terus melakukan ekspansi pembukaan...

Anggota DPRD Malut, Makmurdin: Terimakasih Warga Sula dan Taliabu

LENTERA MALUT -- Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara (Malut) dari partai Golkar, Makmurdin Mus, mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat...

Himasylva Unkhair Gelar Dialog “Akejira Milik Siapa?”

LENTERA MALUT -- Himpunan Mahasiswa Sylva (Himasylva) Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Khairun (Unkhair) Ternate gelar dialog di...

Menolak RUU, Ribuan Mahasiswa Malut Turun ke Jalan

LENTERA MALUT -- Ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Maluku Utara melakukan aksi besar-besaran di depan...

Sambut HTN, LMND dan API Kartini Menggelar Aksi

LENTERA MALUT – Sambut Hari Tani Nasional, Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) bersama Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API...

Terkait Sengkata Lahan: Lawyer Pemdes Nggele Semprot Pemda Taliabu

LENTERA MALUT -- Putusan sidang Pengadilan Negeri (PN) Bobong Kabupaten Pulau Taliabu terkait konflik lahan pembangunan pasar di Desa...

Mahasiswa di Ternate Desak Bebaskan Surya Anta dan Dukung Veronica Koman

LENTERA MALUT -- Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Komite Peduli Ham dan Demokrasi menggelar aksi long march dari...