oleh

Peringati Hari Bumi, Aktivis Mahasiswa Kecam Perusak Lingkungan

TERNATE, LENTERA.CO.ID – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Selamatkan Bumi Manusia (KMSBM) Ternate menggelar aksi memperingari Hari Bumi (Earth Day), didepan Pasar Barito, Kota Ternate, Maluku Utara, pada 22 April 2019.

Hari Bumi yang diperingati tiap tanggal 22 april diseluruh belahan dunia ini pertama kali di periganti di Amerika Serikat pada 1970. Saat itu, jutaan manusia turun ke jalan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi.

“Hari bumi bagi kita bukanlah sekedar momentum semata, bumi sebagai tempat kita berpijak kini telah rapuh dan sekarat,” kata Kordinator Aksi, Meilani, dalam rilis persnya didepan Pasar Barito, Senin 22 April 2019.

Dia mengatakan ini karena sistem kapitalisme yang beroperasi dengan mengeksploitasi besar-besaran isi alam hingga pencemaran lingkungan dan kerusakan alam tak terelakan dan terus terjadi.

Selain kerusakan alam, perampasan hak dan dampak terhadap hajat hidup manusia juga semakin galak dilakukan. Ia mencontohkan beberapa kasus yang terjadi di Maluku Utara, misalnya, Gane, Galela, Taliabu, Halut, dan beberapa daerah yang warganya terancam ruang hidupnya.

Sejumlah aktivis perempuan memegang poster tuntutan “Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan Naikkan Harga Kopra Rp. 20.000/kg, Senin 22 April 2019 (Foto Lentera/Ajun)

Disisi lain, terang Mei, pemerintah juga turut andil dalam merenggut dan merampas kekayaan alam. Ini, kata dia, banyak pejabat dan elit yang punya saham dan pemilik diberbagai bidang industri, baik yang bergerak disektor perkebunan kelapa sawit, emas, nikel maupun pertambangan.

“Kita tidak bisa percaya elit, ataupun kontestan pemilu di 2019 ini. Mereka hanya mewakili kepentingan pemodal, siapapun yang menang, kemenangannya milik pebisnis dan rakyat tetap kalah,” terang Rudhy, salah satu orator massa aksi.

Jokowi dan Prabowo, kata dia, ialah boneka dari pemilik modal. Satu diantara mereka yang menang, tetap tidak merubah keadaan, malah memperburuk situasi demokrasi dan kondisi rakyat semakin terjepit.

Aktivis Perempuan yang tergabung dalam KMSBM memegang poster didepan pasar Barito, Senin 22 April 2019. (Foto Lentera/Ajun)

Perjuangan lingkungan papar dia, sudah merupakan perjuangan menumbangkan kapitalisme, sistem ekonomi yang busuk dan rapuh. “Rakyat harus bersatu, harus mengorganisasikan diri dan berjuangan melawan penindasan, itu jalan keluarnya,” imbaunya.

Untuk diketahui, organisasi yang tergabung dalam aksi hari bumi itu diantaranya:Front Nahdliyin Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), SRIKANDI, Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan), Central Gerakan Mahasiswa Demokratik (CGMD), Solidaritas Perjuangan Rakyat, KP-IWD, Solid, GBU dan sejumlah individu. (Ajun)

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *