oleh

SRIV Demo, Kutuk Intervensi AS di Venezuela

LENTERA MALUT — Sejumlah massa yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Venezuela menggelar aksi didepan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, pada Senin, 18 Maret 2019. Dalam aksi itu, mereka mengecam intervensi imperialisme Amerika Serikat (AS) di Venezuela dan menuntut agar Amerika Serikat menghentikan blokade dan perang ekonomi di Venezuela.

Kordinator Lapangan (Korlap), Fandi Pomsa, mengatakan solidaritas ini untuk melawan dan mengutuk imprealisme AS dan kaki tangannya yang coba menghancurkan revolusi bolivaria Venezuela,

“Melawan AS karena telah mengambil (merampas) wilayah bangsa yang sudah merdeka, dan merampok kekayaan alamnya, baik minyak, emas, uranium, bahan iphone sumber air, hutan yang baik, lingkungan yang ramah bagi venezuela,” ungkap Fandi kepada reporter, Senin 18 Maret 2019.

Di abad ke 21 (sekitar tahun 1960-an tahun 1990-an), kata Fandi, Indonesia juga menjadi korban dari Imprealisme AS dalam campur tangan menghancurkan dan menyengsarakan rakyat indonesia. “Maka solidaritas rakyat indonesia terhadap venezuela sama halnya melawan AS dan kaki tangannya,”

Karena, kata dia, dalam keadaan krisis, saat di sabotase ekonomi oleh AS, Venezuela masih membantu (menyumbang) dana ratusan miliar untuk Indonesia waktu Palu-Donggala di tertimpa tsunami. “Jadi kita harus sadar, dan membalas kebaikan, dengan jalan solidaritas dan seharusnya solidaritas dan kemanusiaan harus menjadi kepribadian indonesia,”.

“Tentu harapan kami agar rakyat Indonesia bisa punya solidaritas, rasa kepudulian, dan turut melawan AS yang menjadi dalang dari kejahatan seluruh bangsa yang mau menentukan nasib sendiri,” pungkasnya

Disisi lain, pengunjuk rasa yang menyatakan untuk mempertahankan revolusi bolovarian ini juga mengkritik pemilihan umum 2019 di Indonesia. Bagi mereka, pemilu kali ini dan sebelumnya tak ada yang berbeda, semua partai sama saja.

“Baik itu Jokowi, sudah tak bisa mengubah keadaan dan Prabowo malah memperburuk keadaan,” tutur Rudhy Pravda, salah satu orator diaksi.

Kata dia, tak memilih Jokowi dan Prabowo bukan berarti rakyat diam. Sebagai tahap awal, tambahnya, harus membangun organisasi rakyat, bahkan sampai pada tingkat membangun partai rakyat sendiri.

“Kami juga mengutuk rezim karena memenjarakan kawan kami sekarang ini dengan beberapa warga sukoharjo karena melawan Racun PT RUM. Rezim Jokowi malah mengkriminalsasi kawan kami dan warga,”

Rezim saat ini, terang Rudhy, lebih sayang PT RUM yang membunuh, merusak lingkunngan, dan mencemarkan bauh busuk. “Itulah kenapa, kami memilih golput dan menuntut PT. RUM harus ditutup. Itulah sikap kami yang lebih baik,”

Selain itu, golput, kata Rudhy, harus di barengi dengan meradikalisasi demokrasi dan membangun partai alternatif sebagai perjuangan untuk demokrasi yang lebih baik, dari demokrasi keterwakilan menjadi demokrasi langsung.

“Pada intinya adalah melawan oligarki kekuasaan dan juga garis politik orde baru dan juga elit yang bersama militer di lingkaran Jokowi maupun Prabowo,” tegasnnya.

Aksi serentak untuk bersolidaritas dengan rakyat Venezuela ini digelar diberbagai kota yang ada di Indonesia, baik pusat kota Jakarta, bandung, malang, makasar, jogja, palu, manado, dan disejumlah daerah di Maluku Utara, Ternate. (Red/Ajun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News