oleh

Robohkan Pagar Pembatas, Desa Fagudu dan Waibau Sepakat Berdamai

SULA,LENTERA.CO.ID – Bupati Kepulauan Sula bersama forum komonikasi pimpinan daerah (Forkopimda) membokar tembok pembatas antara desa Waibau dan desa Fagudu kecamatan sanana, Kepulauan Sula. Jumat, 8 Maret 2019 pagi tadi.

tembok yg dibangun sejak tahun 2012 lalu menurut Dandim 1510 Letkol Inf. Karona Susilo Sitepu dalam arahan singkatnya mengatakan bahwa tembok ini harus di rubuhkan agar tidak ada cerita kelam dimasa mendatang.

“Saya berharap dengan kehadiran kedua belah pihak baik warga desa Fagudu dan Waibau ditempat ini dapat memperbaiki hubungan silaturahmi Antara kedua Warga” Harapnya.

Dandim juga berencana akan membangun pos pengamanan bersama antara TNI-Polri dan warga. “Mulai ini (kemarin, red) kita mulai bangun posnya, dan saya akan siagakan personil di sini, agar mereka juga bisa memberantas miras,” ujarnya.

Sementara Bupati Kepulauan Sula, Hendrata Theis mengapresiasi kerja TNI dan POLRI yang membantu menyelesaikan konflik kedua masyarakat hingga mencapai kesepakatan bersama untuk membongkar tembok pembatas yang di bangun di jalan Sultan Khairun.

“Selanjutnya saya berharap agar hubungan keduanya makin membaik,dan akses jalan ini dapat dipergunakan seperti biasa” Pinta Bupati dalam sambutan yang digelar pagi tadi.

Sebelum dibongkar, Dandim 1510 Sanana Letkol. Inf Karona Susilo Sitepu menggelar pertemuan dengan masyarakat. Pertemuan ini juga dihadiri Kepala Desa Waibau Abubakar Gailea dan Pj Kades Fagudu Sadik Gailea. Pertemuan itu juga dihadiri Danramil 1510/03 Sanana Kapten Chb. Harbun Buamona, Kepala Kesbangpol H. Kamaludin serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas kedua desa.

Disadur dari malutpost.co.id, Dalam pertemuan tersebut, warga dua desa sepakat membongkar tembok yang dibangun 2012 akibat konflik antarwarga.

“Sebagai masyarakat hubungan warga dua lingkungan ini sudah terjalin tanpa ada mediasi dari pihak manapun, untuk itu tembok penghalang ini harus dibongkar agar hubungan persaudaraan kita lebih erat,” kata sejumlah warga.

Mereka menuturkan akses menuju Desa Waibau hanya melewati dua jalan. Namun setelah konflik, jalan alternatif tersebut ditutup.

“Kita ini hidup damai tanpa ada pertikaian, dan warga dua desa ini juga memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat,” kata Hendra Umabaihi, tokoh masyarakat Waibau.

Download

Tentang Penulis: Reporter SULA, Irwan FOKATEA

Reporter SULA, Irwan FOKATEA
IRWAN FOKATEA adalah Reporter Lentera.co.id sekaligus Kontributor dan Pembimbing Om Desa yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *