oleh

KPP Kolkot Ternate Gelar Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter “Iron Jawed Angels”

TERNATE, LENTERA.CO.ID – Kompartemen Perempuan Pembebasan (KPP) Kolektif Kota Ternate, gelar Pemutaran dan Diskusi Film dokumenter, Iron Jawed Angels, di ruangan Asrama Sula, Kelurahan Gambesi, Kota Ternate, Rabu, 30 Januari 2019.

Diskusi film dokumenter yang digarap oleh Katja von Garnier ini dipandu oleh Ketua Kompartemen Perempuan Pembebasan (KPP) Maluku Utara (Malut), Widia Hasdin. Film tersebut berdurasi kurang lebih 2 jam.

“Pemutaran film dan diskusi ini bermaksud untuk memberikan satu pemahaman politik terhadap kaum perempuan saat ini di Indonesia untuk bangkit melawan dan memperjuangkan hak-haknya,” papar Ketua KPP Malut, Widia, Rabu 30 Januari 2019.

Film ini, tambah Widia, menjadi potret bahwa perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam ruang politik tidaklah mudah. “Diperlukan waktu dan energi yang panjang, karena untuk menembus benteng bernama patriarkhal sangat sulit,”tambah Widia.

Sementara Ketua KPP Kolektif Kota Ternate, Wa Ode Mayani, usai menonton film tersebut, mengatakan, film ini sangat inspiratif dan menjadi tonggak sejarah penting. Dua perempuan itu [Alice Paul dan Lucy Burns] dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bisa sebagai pemilih dalam pemilu.

Suasana Diskusi Film Dokumenter

Film Dokumenter: Perjuangan Hak Pilih Perempuan di Amerika

Film ini berkisah tentang perjuangan kaum perempuan untuk memperoleh hak pilih di Amerika Serikat sebelum dan ketika Perang Dunia I berlangsung. Kisah nyata ini mengambil perjalanan hidup Alice Stokes Paul (11 Januari 1885-9 Juli 1977) yang menjadi pimpinan gerakan hak pilih (suffragist) Amerika. Bersama kawannya, Lucy Burns dan lainnya, memimpin kampanye memperjuangkan hak pilih perempuan. Perjuangan Alice dan kawan-kawannya terbayar dalam Amandemen ke 19 Konstitusi Amerika Serikat tahun 1920.

Diceritakan pada tahun 1912 di Philadelphia 2 orang aktivis perempuan muda, Alice Paulus dan Lucy Burns melangsungkan pertemuan dengan Carrie Chapman Catt dan Anna Howard Shaw yang merupakan pimpinan dari kelompok aktivis hak pilih National American Women Suffrage Association (NAWSA) –yang dibentuk pada tahun 1890 oleh Susan B. Antony dan Elizabeth Cady Stanton- Kelihatan sekali perbedaan mereka.

Mereka yang aktivis muda memiliki semangat yang kuat dan cenderung memberontak dibandingkan mereka yang lebih tua yang lebih konservatif, dalam upaya menekan agar dibuatkan amendemen pada konstitusi yang mengakui hak perempuan untuk memilih. Sedangkan Chapman Catt dan Howard Shaw lebih memilih cara pendekatan negara dengan negara, menggunakan cara-cara yang lazim dilakukan saat itu.

Aktivis NWP Ditangkap, Dijebloskan dalam Penjara dan Disiksa Secara Tidak Manusiawi.

Perpecahan tak terelakkan, Alice dan Lucy akhirnya mengundurkan diri dari NAWSA karena dipandang tidak serius memperjuangkan hak perempuan. Berselang beberapa waktu, dibentuklah National Woman’s Party ( Partai Nasional Wanita)-NWP bersama dengan beberapa simpatisan lainnya.

Perlawanan terus digalakkan oleh Alice dan anggota NWP saat terjadi Perang Dunia I, pemerintahan makin kebingungan, akhirnya sejumlah aktivis NWP ditangkap lantaran dituduh mengganggu ketertiban umum. Didalam penjara mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dan tidak manusiawi.

Alice bersama dengan para aktivis NWP yang tersisa semakin giat melakukan demo di depan Gedung Putih. Penangkapan juga terjadi pada Alice, dan dimasukkan pula ke dalam penjara.

Di dalam penjara Alice Paul melakukan pembrontakan dengan aksi mogok makan, yang kemudian diikuti pula oleh rekan-rekan aktivis NWP lainnya.
Namun perlakuan yang lebih buruk justru harus diterima oleh Paul. Ia dipaksa menelan makanan dengan memasukkan selang ke dalam mulut dan hidungnya hingga terluka. Kaki dan tanggannya terikat sehingga tidak bisa melakukan pembrontakan.

“Iron Jawed Angels” Bebas, Hak Perempuan Diamandemenkan Wilson

Penganiayaan ini akhirnya terbongkar setelah catatan-catatan milik Paul terekspos ke media.
Tersebarnya fakta yang dialami Paul di dalam penjara justru mengubah opini masyrakat tentang NWP dan menjulukinya“Iron Jawed Angels”, artinya Malaikat Berahang Besi.

Tuntutan pembebasan aktivis datang dari masyarakat, mereka mendesak agar Alice Paul dan kawan-kawannya dibebaskan. Catt dari NAWSA tidak tinggal diam, mereka juga terus mendesak Presiden Wilson untuk mengamandemen UU dan membebaskan aktivis NWP. Presiden Wilson akhirnya membebaskan Alice Paul dan teman-temannya, serta menyetujui amandemen UU dalam pidato kongres. Akhirnya tanggal 26 Agustus 1920, Amandemen ke-19 Konstitusi Amerika, resmi menjadi UU sehingga perempuan Amerika pun secara resmi mendapatkan hak suara yang sama dengan pria dalam pemilu.

Red Ajun

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *