oleh

Keganjalan SK Rektor IAIN Ternate, dan Bagaimana Warek III Menanggapinya

TERNATE, LENTERA.CO.ID – Surat Keputusan (SK) Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate tentang Kode Etik dan Tata Tertib (Tatib) menjadi polemik dikalangan mahasiswa. SK tersebut dibentangkan menggunakan spanduk, dengan satu buah spanduk depan kampus dan dua lainnya didalam lingkungan kampus, tepat jalan pintu masuk sebelah kiri pada Jumat, 4 Januari 2019 kemarin.

Kode Etik sendiri tertuang dalam SK Rektor IAIN Ternate Nomor 158 Tahun 2018. SK tersebut menegaskan kepada mahasiswa agar tidak mengenakan kaos oblong, baju atau celana yang sobek, sendal, topi, rambut panjang dan/atau bercat dalam mengikuti kegiatan akademik, layanan administrasi dan kegiatan kampus lainnya

Dalam SK tersebut juga mengatur soal penyampaian aspirasi dan kritik mahasiswa dalam teritori kampus harus melalui lembaga kemahasiswaan yang resmi secara berjenjang, dan apabila dilakukan mimbar bebas, maka diperlukan surat pemberitahuan selambat-lambatnya dua hari sebelum dilaksanakan.

Sementara, untuk Tatib, disebutkan dalam SK Rektor IAIN Ternate dengan Nomor 154 Tahun 2018. Ditegaskan, selain organisasi kemahasiswaan intra IAIN Ternate tidak diperkenankan memasang spanduk, baliho, pamflet dan sejenisnya kecuali mendapat izin pejabat yang berwewenang

Juga disebutkan bahwa penyampaian aspirasi secara lisan tidak boleh melanggar nilai-nilai etika, kesopanan, kesantunan, dan ahlak serta tidak menganggu ketertiban umum.

Tanggapan Mahasiswa

Sedikitnya, 7 (tujuh) orang menjadi sumber untuk dimintai keterangan tentang SK Rektor diatas, jawabannya hampir serupa. Mereka menganggap SK tersebut secara tiba-tiba langsung di bentangkan tanpa pemberitahuan atau sosialisasi.

“jadi waktu itu [hari senin], kami duduk disini [tempat duduk menghadap spanduk], pas masuk kampus, eh, sudah liat spanduk itu [Kode Etik dan Tata Tertib] di pasang,” ungkap salah satu mahasiswa IAIN Ternate yang tidak ingin namanya di publikasikan, waktu berbincang dengan Reporter, pada Rabu 9 Januari 2019 siang tadi menyangkut SK yang terpampang di jalan itu.

SK tersebut, menurutnya masih terganjal, dan penuh diskriminatif terhadap hak-hak berpendapat mahasiswa dilingkungan kampus. “mana mungkin, SK ada, tapi sosialisasi tidak, ini kan naif,” lanjutnya

SK Sudah Lama, Namun Baru Dimaksimalkan?

Wakil Rektor (Warek) III IAIN Ternate, Adnan Mahmud, saat di temui sejumlah media, mengatakan SK tersebut sudah lama, 2018 lalu, namun hanya diperbahrui. Pengesahan SK sendiri melibatkan organisasi legal mahasiswa, yakni Dewan Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiswa (SEMA), dan Unit Kegiatan Khusus (UKK). Selanjutnya dibawa ke Rektor baru disahkan dalam tingkat senat. Jadi, kata Adnan, kedua SK itu melalui tahapan yang lebih panjang, dan sudah didiskusikan mafsadah dan mudaratnya.

Ia menuturkan, walau sudah ada kode etik, namun masih tidak ditaati sejumlah mahasiswa. Merujuk pada SK tentang kode etik, Warek III kemudian mengambil alternatif dan mensosialisasikan lewat spanduk dan dan pamflet. Sebelumnya, kata Adnan, sosialisasi SK sebenarnya akan dibuat buku saku, tapi karena terkendala anggaran, maka belum terpenuhi. Tetap akan diusahakan.

“Kita akan buat buku saku dan berikan kepada mahasiswa sehingga tidak ada mahasiswa yang belum tau,” kata Adnan kepada Reporter Lentera, pada Rabu 9 Januari 2019 di ruang kerjanya.

Aturan tersebut, lanjut Adnan, bukan untuk mengekang mahasiswa. “Maka ada yang bilang Warek III nggak demokratis, mengekang hak mahasiswa, saya bilang nggak, diatur, bukan dilarang untuk menyampaikan kritik sosial dan sebagainya, tapi kritik sosial itu, saat menyampaikan ada aturannya. Ini orang masuk WC, masuk kakus ada aturannya, saya bilang begitu, jadi diatur sehingga tertib” terangnya.

Menurutnya, penyampaian pendapat harus ada pemberitahuan ke Rektorat, dan bedakan dengan surat izin. Ia menganalogikan hal itu seperti para demonstran [aksi massa diluar kampus] yang memasukkan pemberitahuan kepada pihak kepolisian. Walau demikian, kata Adnan, menyampaikan pendapat itu tanpa harus mencaci maki, santun, menjaga etika serta cara penyampaian dan bahasanya.

Dikampus, tambah Adnan, tidak semua teritori dibolehkan menyampaikan aspirasi, namun ada titik-titik tertentu. “Bukan semua tempat, ini pagi-pagi mahasiswa sudah dengan megafon, ngga tahu ngomong apa, ribut saja, padahal sementara ada semester,”tuturnya.

“Kode etik sudah jelas dan sosialisasi sudah jalan, selama anda [mahasiswa] pakai kaos, saya berjalan dengan gunting, saya gunting pakaian anda dari badan, silahkan anda komentar dimedia, Warek III arogan, tidak demokratis, dan melanggar HAM, silahkan,” tuturnya sembari mengatakan ia beritikad baik untuk nasib mahasiswa kedepan yang lebih baik “kalau tidak merubah mainset dari sekarang, susah,”

Penyampaikan aspirasi, katanya, harus secara berjenjang melalui organisasi kemahasiswaan agar tersalurkan melalui jalur resmi organisasi kampus. Sehingga, lanjutnya, bisa teratur dan didengar kemudian dipresur tuntutannya. “Jangan cuma kerja demo, kerja demo, nda tau apa yang disampaikan,”

Sementara untuk organisasi ekstra-kampus, harus mengantongi surat pemberitahuan, dan harus mendapat izin pejabat yang berwewenang.

Kampus islami [IAIN], katanya, harus menjalankan visi Kementrian Agama, tidak hanya intelektual yang diharapkan, tapi moralitas juga harus dijaga karena cerminan moralitas adalah berpakaian rapi. Ia menambahkan, perilaku melalui cara berbusana [yang rapi] juga menjadi ukuran seseorang. “masa, mahasiswa IAIN kelihatan gondrong kaya ‘tutup saji’, kan tidak mungkin, saya kasih nama rambut ‘tutup saji’,”

Ia berharap dengan sosialisasi walaupun masih sederhana sifatnya, tapi bisa membangkitkan kesadaran mahasiswa yang tertib tanpa harus merasa hak-hak mereka dikebiri, dibonsay dan sebagainya. Persepsi itu, lanjutnya lagi, sebenarnya sangat jauh dari semangat aturan yang ditetapkan.

“Karena itu saya berharap seluruh civitas akademika mari taat dan turut pada aturan itu,” pungkas Adnan.

Red/Ajun

Download Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *