oleh

Membaca Tanda ‘Vanessa’ dalam Kepala Manusia

LENTERA.CO.ID — Penulis: Ardiansyah Fauji*

Teman baik Saya menyebut pemberitaan akhir-akhir ini soal kasus prostitusi online yang menjerat Vanesaa dan kawannya adalah semacam arogansi Machoisme.

Tulisan ini bukan sebuah pembelaan, tapi berusaha mendudukan bahwa Vanessa dan Mister R sama-sama melukai. Artinya mereka mestinya merasakan sakit yang sama, bukan karena tubuh Vanessa lebih gemulai, sehingga itu jadi alasan untuk mengeksploitasinya habis-habisan.

Prostitusi merupakan profesi paling purba, hebatnya sanggup melintasi segala zaman. Di Jepang, dahulu Arthur Golden menerbitkan sebuah buku fenomenal yang kemudian di filmkan dan begitu laris dan memenangkan 6 nominasi academy awards dengan judul yang sama, ‘Memoirs of a Geisha’. Di buku itu Arthur sebenarnya ingin mengambarkan kisah seorang perempuan yang sedang berjuang mencari identitas dirinya, sebuah kisah cinta, kerinduan, serta perempuan dalam kehidupan. Arthur hendak mengembalikan arti Geisha dari kesesatan persepsi orang-orang. Dalam bahasa Jepang, Geisha artinya orang seni, yaitu orang-orang yang terampil dalam seni tradisional Jepang seperti musik, tari, menyanyi dan upacara minum teh.

Ilustrasi

Awalnya profesi Geisha banyak dilakukan oleh kaum laki-laki, seiring waktu minat lelaki pada bidang ini menurun dan perlahan diambil alih oleh perempuan, yang kebetulan juga sebagian dari perempuan tersebut adalah mantan pelacur, tetapi itu sebagian kecil saja dari semua perempuan Geisha.

Lambat laun tradisi Geisha menjadi begitu kuat tertanam sebagai profesi khusus perempuan, dan ada kode etiknya yang sangat ketat. Para Geisha tinggal di sebuah rumah yang disebut Okiya, pemiliknya adalah mantan Geisha. Perempuan-perempuan ini lalu dilatih di sekolah lokal, mereka memiliki guru khusus dan pelajarannya juga khusus, semisal tari, flute, drum, shamisen, dan upacara minum teh.

Kebanyakan orang termasuk saya, mengira Geisha adalah pelacur, mereka hanya sebagai penghibur, dan para Geisha sejati jarang terlibat hubungan seksual dengan pelanggannya. Geisha biasanya dipanggil ke sebuah pesta untuk menghidupkan suasana, mereka menari, menyanyi atau cara lain. Dan setiap Geisha memiliki seorang pelindung pribadi yang disebut Danna.

Seorang Geisha sangat serius mempelajari seni tradisional Jepang.

Hubungan Geisha dengan seorang Danna menjadi benang merah mengapa Geisha kemudian penuh dengan konotasi buruk. Pelindung pribadi Geisha merupakan orang yang memelihara Geisha dan memenuhi segala kebutuhannya, Danna biasanya seorang kaya raya, dan terkadang hubungan ini sampai diurusan tempat tidur. Seorang Geisha memerlukan seorang Danna agar bisa memutuskan hubungan dengan Okiya, sehingga kemudian bisa hidup mandiri.

Hari ini, menyebut Geisha sama artinya menyebut nama seorang pelacur. Jauh dari Momeirs of a Geisha.

Vanessa bukan Geisha, karena ia tak tinggal di rumah Okiya, sekolah khusus atau mempelajari ilmu khusus sebagai Geisha, juga tak berlaku kode etik ketat Geisah pada dirinya. Tetapi Vanessa adalah seorang perempuan muda yang hidup di era post truth. Selain itu Vanessa hadir di sebuah masa yang penuh dengan politik tubuh perempuan, ditengah-tengah masyarakat yang hanya membaca sebuah tanda lalu bisa mengelompokan seorang perempuan sebagai apa, lalu mengadilinya tanpa rasa kasihan.

Membaca seluruh headline media massa beberapa hari ini, Vanessa seperti hidup sendiri di dunia ini, tak ada sanak keluarga, bahkan mungkin Vanessa terlahir dari sebuah batu yang setiap hari disembah, sehingga batu itu tak akan pernah terluka membaca headline media-media mainstream tentang anaknya yang tersesat disebuah kamar hotel bintang lima. Urusan privat Vanessa kemudian berubah jadi urusan pasar kaget dengan barang-barang murah yang berserakan dan jadi rebutan orang-orang. Vanessa dieksploitasi hingga warna dalaman yang ia pakai (untung saja dalamannya tak sewarna dengan salah satu partai politik), seolah-olah para pewarta yang mengabarkan dirinya begitu suci, seolah-olah tak berlaku lagi hukum kosmis, sebab akibat.

Dalam kasus ini Vanessa tak sendiri, dia juga tak harus dilindungi (hukum moral), barangkali semua judul-judul panas yang dituliskan baik cetak maupun online, hanya dibaca oleh mereka yang usianya di atas 18 tahun. Rating membuat orang lupa cara mengedukasi sebuah kasus agar tak terjadi lagi Vanessa-Vanessa lain di masa depan.

Sekalipun Vanessa-Vanessa lain jera juga ngeri andai melakukan hal yang seperti itu dengan seluruh pemberitaan yang ada, namun jika Mister R masih nyaman menawarkan 80 juta, 100 juta, mucikarinya leluasa mencari korban karena hukum moral yang didapat tak sedasyat Vanessa, maka seperti tawanan perang yang gugur dimedan perang, Vanessa-Vanessa lain akan tetap tunduk dan mati dalam pelukan haram si Mister R.

*(Penulis adalah Novelis dan angota DPRD Kota Tidore Kepulauan Fraksi Demokrat)

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News