oleh

Demo KOPRA Ricuh Lagi

TERNATE, LENTERA.CO.ID – Ratusan massa aksi, Koalisi Perjuangan Rakyat (KOPRA) yang menggelar aksi unjuk rasa didepan Kantor Walikota Ternate, Senin 10 Desember 2018, berakhir ricuh.

Pasalnya pengunjak rasa menuntut agar pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) segera menaikkan harga kopra yang “terjun bebas” tanpa parasut beberapa bulan terakhir ini.

Menurut pantauan Reporter lentera.co.id, massa aksi dibubarkan dengan paksa, dan terjadilah baku lempar antara polisi dan mahasiswa, kemudian di hujani Amor Water Cannon (AWC), gas air mata dan dikejar. Beberapa diantara massa aksi diamankan oleh pihak polres Ternate.

Walau demikian, terdapat juga beberapa korban, salah satunya yang sempat di lihat reporter adalah seorang anak berumur sekitar 13 tahun dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Kemudian, ada juga seorang massa aksi yang kepalanya pecah, atas nama Marwan (24). Menurut keterangan Marwan, ia menduga kuat yang melakukan tindak kekerasan tersebut adalah anggota polisi berseragam lengkap.

“Kami mau mengamankan massa aksi di atas sound system, tapi yang terjadi kami dipukul oleh pihak kepolisian menggunakan kayu atau rotan dua kali sehingga kepala saya pecah” Marwan mengisahkan kejadian itu kepada reporter saat di temui usai kericuhan, Senin, 10 November 2018.

Selain dari memakan korban, kericuhan juga merusaki mobil diantaranya mobil komando massa aksi, kaca depannya pecah. Sedang yang satunya mobil dinas pemerintah kota Ternate.

Kericuhan tersebut menurut Wakil Kepala Polisi Resort (WakaPorles) Kota Ternate, Jufri, karena di dahului pengunjuk rasa dengan melempari batu kepada pihak polisi. Pihaknya tetap persuasif dan mengarahkan massa untuk tidak menganggu aktivitas masyarakat lainnya.

Saat dikonfirmasi juga terkait dengan kericuhan yang memakan korban dan penindak polisi yang melakukan kekerasan terhadap massa, Waka Porles masih sangsi.

“Saya belum tahu itu petugas atau tidak, karena tergantung situasi di lapangan kita liat” ungkap wakaPorles sembari menyadari bahwa bila memang itu oknum polisi yang melakukan, maka pihaknya meminta maaf.

Disisi lain, pihaknya juga menahan truk dari massa aksi yang menjadi komando pengunjuk rasa. Bagi Waka Porles, truk pengunjuk rasa tersebutlah yang menjadi sumber provokasi massa.

“Tadikan situasi adem-adem saja, tapi karena ada satu orator yang memanas-manasi para pengunjuk rasa, ya akhirnya situasi jadi panas,” ungkap tutup Jufri.

Rilis pengunjuk rasa KOPRA yang dierima lentera.co.id tertulis ada kesan diabaikannya tuntutan pengunjuk rasa yang telah dituntut berulang kali dengan menggelar aksi hingga menuai janji menaikkan harga kopra, oleh Pemerintah Provinsi Malut, membuat Momorandum of Understanding (MOU) untuk menyelesaikan harga kopra, hingga subsidi 2 milyar untuk anak petani kopra.

Kemudian, pada Senin 03 Desembet 2018 lalu, KOPRA juga menduduki kantor DPRD Provinsi Malut, dan ada kesepakatan dan hal itu di langsungkan didiskusikan di Hotel Grand Malang beberapa waktu lalu, namun hingga kini masih kandas di meja wakil rakyat.

“Tapi sampai saat ini belum/tidak ada kejelasan kepada masyarakat bahkan diantara dprd dengan Pemerintah Provinsi Malut masih belum mencapai satu mufakat untuk selamatkan nasib petani” tulis dalam rilis tersebut.

Sebelumnya demonstrasi dengan tuntutan “naikkan harga Kopra” ini telah di gelar berulang kali, namun tidak pernah mendapat respon positif dari tuntutan pengujuk rasa. “Jilid V” menjadi tajuk protes perlawanan dari ratusan masa dari berbagai elemen pergerakan ini.

Rep/Ajun

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News