oleh

Festival Kora-Kora Ternate Harus Jadi Magnet

TERNATE, LENTERA.CO.ID — Bertempat di Land Mark, Kota Ternate, Festival Kora-kora 2018 resmi digelar, Sabtu 1 hingga Minggu Desember 2018. Dalam catatan panitia, ada 20 peserta yang ikut dalam lomba ini. Mereka terbagi dalam full A hingga E.

Event ini adalah cara pemerintah mendokrak potensi wisata bahari, sekaligus memicu pengembangan event lainnya. “Jadi wisatawan tidak hanya terfokus ke event ini (festival kora-kora) saja, tapi bisa ke tempat wisata lain yang ada di Ternate,” ujar Tasbir, Tim Kalender Event Nasional Kementerian Pariwisata usai pembukaan Festival Kora-kora.

Event ini tercatat sudah kali ke-8. Tasbir berharap, 2019 bisa dibuat lebih besar lagi. “Pastinya, semua itu perlu evalusasi. Tentu masih ada yang kurang. Seperti keterlibatan masyarakat. Kita berharap 2019 gaungnya lebih besar,” harap dia.

Dalam kesempatan itu, Tasbir memberikan sedikit pandangan terkait hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam sebuah event. “Tadi di airport (Bandara Sultan Babullah Ternate) belum ada spanduk (festival kora-kora) yang terpampang,” katanya.

Menurut dia, persiapan seperti itu sangat penting, agar penumpang pesawat bisa tahu. “Karena kelihatannya, informasi belum tersebar luas.” Kendati demikian, dikatakan Tasrif, kementerian pariwisata tetap ikut mempublikasi hingga promosi. Pihaknya tetap akan membangun koordinasi dengan pemerintah daerah. “Nanti kita lihat, mana yang lebih pantas masuk event nasional. Pemda juga perlu bergerak, terutama melibatkan masyarakat agar bisa dikenal lebih luas,” katanya.

“Ternate kan masuk provinsi kepulauan. Saya kira maritimnya bagus. Kalau budaya, dikombinasikan aja. Jadi di sini lebih kepada maritim. Tapi alam, kita juga ada potensi. Ada cengkeh, pala, macam-macam. Itu juga bisa didorong. Kalau semakin banyak aktivitas, maka makin memungkinkan tamu senang di sini. Ekonomi akan ikut bergerak,” tandasnya.

Soal menarik dan tidaknya, menurut dia, eventnya harus diperbanyak. Kemudian atraksi budaya dibuat lebih menarik. Minimal, seluruh kabupaten bisa dipilih hasil-hasil kesenian perkecamatan untuk ditampilkan di sini. “Variasinya kan bisa dibuat macam-macam,” tuturnya.

Sementara, sasaran untuk wisatawan asing, menurut Tasbir, di Ternate belum banyak dikenal. Apalagi jika bersaing dengan Lombok, atau Bali yang sudah lebih populer. Sehingga dibutuhkan upaya lebih keras dari pemerintah daerah.

“Untuk promosi harus ada keseimbangkan. Misalkan, apa kira-kira produk yang tepat buat mereka. Kalau mereka datang, mau ke mana. Apa yang mau ditampilkan. Kalau spot diving, berapa jumlahnya di sini yang cocok untuk mereka. Kemudian wisata alam juga. Jadi harus rajin promosi,” jelasnya.

Kalaupun dana terbatas, pemda dapat mengundang travel agent dari luar. Seperti dari Bali, yang sudah banyak tamu asingnya. Setelah dikenalkan, ditawarkan kerja sama dengan travel di sini. “Kalau bicara promosi, kita harus aktif. Karena kalau tidak ya tidak akan dapat banyak. Mungkin satu dua orang yang hanya dapat (informasi event) lewat internet,” katanya.

Vestifal Kora-kora

Pekerjaan Rumah

“Kita tidak punya tourism information center (TIC). Tapi kita sudah anggarkan di 2019 untuk pembuatan TIC di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Kami sudah buat MoU (Memorandum of Understanding) dengan pihak bandara,” ujar Samin Marsaoli, Kepala Dinas Pariwisata, Kota Ternate.

Menurut Samin, promosi tidak harus konvensional. Tapi juga digital. “Persoalannya, anggaran promosi itu sangat kecil. Kementerian hanya buat branding. Kita siapkan destinasi. Jadi paling tidak, event seperti ini juga menjadi bagian yang harus di promosi,” kata Samin, sembari berharap tidak hanya event kora-kora saja yang dapat di promosikan.

Ia menjelaskan, di Ternate ada destinasi yang belum dikembangkan pemerintah daerah. Karena ada juga milik masyarakat. Sementara, pariwisata tidak bisa dilakukan satu pihak, tapi melibatkan semua elemen. Termasuk masyarakat hingga pengusaha. “Paling penting itu masyarakat di sekitar situ (wisata) yang juga ikut membangun,” katanya.

Soal sinergitas, dikatakan Samin, tidak bisa diukur. Karena pariwisata langsung berdampak ke masyarakat. Sementara, dari sisi pendapatan, di Ternate cukup banyak diperoleh dari pajak. Seperti hotel, restorant hingga rumah makan. “Itu (pajak) paling tinggi,” katanya.

“Karena pariwista sifatnya industri. Sedangkan jika dibandingan dengan beberapa kabupaten, di Ternate industrinya semakin bergeliat. Artinya, ada keinginan kuat dari pelaku usaha untuk berinvestasi di sini. Di situlah ukuran sinergitas,” terangnya.

Festival Kora-kora, dikatakan Samin, hadir menggantikan event Legu Gam. Salah satu event pesta rakyat, yang diprakarsai Kesultanan Ternate. “Jadi kami berharap bukan hanya event ini saja, tapi semua. Kalau itu bagus, ya kami dorong,” tuturnya.

Sekadar informasi, tanggal 5 Desember akan ada rapat tentang norma, standar, dan penilaian terhadap event. Dinas Pariwisata mengajukan 16 event. 7 event dikelolah pemda, sisahnya swasta. Termasuk beberapa komunitas yang sudah terbentuk. “Di situ kita akan ukur nilainya,” terangnya.

Karena menurut Samin, dari beberapa kategori event ini, tergantung daya tarik. “Kalau di kora-kora ini kan bahari. Ada juga nilai sejarahnya. Tapi yang pasti, kora-kora ini semangat kebaharian yang menyimpan banyak sejarah para sultan menjelejahai nusantara,” tandasnya.

Kontributor: Lis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *