oleh

Seru “Papua Harus Merdeka” 98 Mahasiswa Ditangkap Polisi

TERNATE, LENTERA.CO.ID – 98 orang aktivis dari Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) di Ternate ditahan setelah polisi membubarkan aksi yang digelar , di depan pasar Tradisional Higienis Kota Ternate, pada 1 Desember 2018.

Massa aksi ini bermaksud untuk memperingati hari lahirnya enbrio bangsa West Papua yang jatuh pada 1 desember 1961, 57 tahun silam.

Berdasarkan pantauan Reporter Lentera, aksi yang dibubarkan oleh anggota polisi dan intelkam Polres Ternate yang langsung seret paksa massa aksi untuk naik ke dalam mobil Polisi bahkan ada beberapa aktivis sempat ditarik dan dipukul untuk dipaksa naik ke dalam mobil.

Menurut salah satu massa aksi, Ridwan (21), menyampaikan bahwa aktivis mahasiswa yang menggelar aksi peringati hari lahirnya bangsa Papua itu terdiri dari 12 orang asal Papua, dan 99 orang lainnya dari Organisasi mahasiswa yang tergabung dalam FRI-WP, sewaktu hendak berjalan ke Porles, salah satu massa aksi dilarikan kerumahnya karena mengalami gangguan pernapasan.

“Satu orang sesak napas jadi sudah dilarikan ke rumah. 12 orang dari Papua dan sisanya dari Ternate. Saat ini mereka sudah dibawah ke Polres,” ungkapnya saat ditanyai lentera.co.id usai dimintai keterangan oleh Polisi.

Berdasarkan data yang dihimpun lentera, massa aksi menuntut dua hal dalam aksinya itu yakni, pertama agar pemerintah Indonesia menyelesaikan permasalahan HAM di Papua dan kedua agar berikan hak kepada rakyat Papua untuk bisa menentukan nasib bangsanya sendiri.

Sebagaiman yang disampaikan oleh massa aksi “Tarik militer (tni-porli) Organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua” serta adanya seruan “Papua harus merdeka” yang menjadi yel-yel dan penyemangat orasi ditengah massa aksi.

Sementara pembubaran ini, menurut Kaporles Ternate, AKBP Azhari Juanda, karena mereka menyuarakan aspirasi yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Tentunya ini tidak bisa ditolelir, karena silahkan kalau mereka ingin menyampaikan pendapat, itu Hak tapi jangan lupa bukan hak saja yang diatur dalam UU penyampaian pendapat di muka umum, tapi ada juga kewajiban. Kewajibannya adalah materinya tidak boleh terkait masalah persatuan keutuhan NKRI. Tentunya ini sudah menyimpang jauh” ungkap Kaporles, Azhari Juanda, kepada sejumlah awak media, sabtu 1 Desember 2018, saat di konfirmasi terkait dengan penahanan aktivis mahasiswa.

Sehingga, lanjut Kaporles, pihaknya langsung mengambil tindakan dan mengamankan pengunjuk rasa ke Porles.” karena tadi disana dilapangan mereka berteriak-teriak agar papua merdeka, agar Papua lepas dari Indonesia, seperti itu” imbuh Kaporles.

Massa FRI-WP Diberi Pembinaan dan Arahan oleh Petugas Polisi

Terkait pembubaran tersebut juru bicara FRI-WP, Surya Anta menganggap bahwa hak penyampaian pendapat dimuka umum telah di atur dalam UU no 9 tahun 1998 dan di perkuat dengan UUD 1945.

“Aparat kepolisian gagal menghormati hak kebebasan mengemukakan pendapat yang sudah di atur dalam konstitusi Republik Indonesia” tulis Juru Bicara FRI-WP, Surya Anta, saat di konfirmasi Reporter Lentera via Whatsapp, sabtu (01/12/18)

Menurutnya, tidak ada dasar pembubaran aksi, karena massa aksi hanya melakukan aksi secara damai dan harus dihormati oleh pihak kepolisian.

Surya menenkankan bahwa demokrasi dan pendewasaan bangsa tidak akan maju apabila setiap aspirasi pendapat dibungkam oleh Aparatus negara.

“Rakyat Ternate mesti melindungi capaian reformasi, meskipun sepakat atau tidak soal aspirasi Papua Merdeka. Sebab, pembungkaman akan jadi preseden buruk bagi kemajuan demokrasi dan peradaban” tutur Surya.

Aksi ini dilakukan secara serentak di 11 kota di Indonesia. Maluku Utara menjadi pusat dengan tiga kabupaten/kota: Ternate, Sula, dan Tobelo. Kemudian aksi juga dilaksanakan di Jakarta, Surabaya, Palu, Kupang, Makassar, dan Manado.

Hingga berita ini ditulis massa aksi yang ditahan dan dimintai keterangan, diintrogasi dan diambil datanya telah dipulangkan oleh pihak Kepolisian Polres Ternate sekitar pukul 18:10, kecuali Kordinator Lapangan Aksi FRI-WP, Rudi dan tiga orang lainnya yakni Mita, Iyya dan Isra belum dibebaskan.

Rep/Ajun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments

News