oleh

Lepas Tanggung Jawab, Ruslan Tidak Tahu Kondisi MTS Nursyafaat

Sekdes Tanjung Jere, Kecam Sikap Yayasan Mts. Nursyafaat. Warga berharap Perhatian dan solusi dari Pemda

HALSEL, LENTERA.CO.ID – Di tutupnya Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nursyafaa yang berada dibawah asuhan Yayasan Mts. Nursyafaat, membuat 5 (lima) orang Siswa kelas 3 (tiga) di MTs Nursyafaat terpaksa harus putus sekolah, karena ulah pengurus dan penanggungjawab yayasan yang tidak bertanggungjawab.

Pasalnya, sebelum MTs Nursyafaat beroperasi, beberapa orang siswa di antara mereka pernah menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Desa Wosi, Gane Timur, Halmahera Selatan, namun di awal 2017 MTs Nursyafaat dengan iming-iming dan janji, membuat orang tua siswa memindahkan anaknya untuk di sekolahkan MTs Nursyafaat, Desa Tanjung Jere.

Tapi sayangnya, MTs yang baru berusia 1 tahun itu kini di abaikan oleh pihak Yayasan sehingga siswa kelas 1(satu) dan 2 (dua) memutuskan untuk pindah sekolah diawal bulan Oktober kemarin karena tidak adanya fasilitas dan sarana penunjang lain, serta hanya mengandalkan 1 orang tenaga pengajar yang juga masih berstatus honorer. Sedangkan nasib sama juga bagi siswa kelas 3 harus menjerit karena tak bisa melanjutkan sekolahnya dan terancam tak bisa mengikuti ujian.

“Siswa pindah karena mungkin melihat tidak ada guru, siswa kan pasti bosan kalau hanya saya yang mengajar, saya bilang silahkan pindah yang penting masih sekolah,” ujar salah satu guru honor, Suntia yang bertahan hingga siswa pindah sekolah dan MTs di tutup, kepada Lentera Online, pada 6 November 2018.

Tidak hanya itu, dirinya juga mengakui bahwa hal fatal terbesarnya hingga siswa pindah dikarenakan tidak diturunkan fasilitas buku mata pelajaran.

“Saya mengajar itu masih menggunakan kurikulum 2013, dan tidak lengkap, semuanya foto copy, dan itupun hanya diberikan di semester awal, semester sekarang sudah tidak di distribusi, hingga siswa merasa jenuh” tuturnya, seraya memperlihatkan 3 buah buku copy-an yang tergeletak di atas meja ruang tamu di rumahnya.

Sayangnya, keterpurukan tersebut tidak membuat pihak Yayasan turun tangan menanggulangi bencana krisis mutu pendidikan di MTs yang kini harus di tutup itu, malah membiarkan siswa terjerit dengan segala keluhannya. Bahkan tak hanya siswa yang menjerit soal tak perhatiannya pihak pengelola yayasan, honor Suntia pun tak juga dibayarkan oleh Ruslang Konoras sebagai penanggungjawab yayasan.

Sementara kepada Lentera Online, Sekertaris Desa Tanjung Jere, Abdurahman Umasangaji, saat di sambangi di rumahnya, pada 4 November 2018 kemarin, menyatakan prihatinnya dengan apa yang di nyatakan Kepala Yayasan, dirinya mengecam keras tindakan pihak Yayasan yang membuat hancurnya generasi di Desa tersebut.

“Saya secara pribadi, mengutuk perbuatan tersebut, kalau pun bisa apa yang terjadi terhadap MTs ini menjadi sorotan pemerintah daerah, khususnya Halmahera Selatan, dan pihak dinas terkait untuk memproses pihak Yayasan” ucap Sekdes, sembari menyuguhkan kopi di depannya.

Hingga kini, walau ada informasi yang beredar tidak pasti akan di ikutkan Ujian, Siswa Kelas 3 yang tidak berstatus lagi di Yayasan MTs Nursyafaat yang ada di Desa Tanjung Jere, Kec. Gane Timur, Halmahera Selatan tersebut, terpaksa meratap dan terombang-ambing layaknya pengangguran di Desa.

Harapan demi harapan mengalir dari mulut masyarakat di Desa tersebut untuk sesegera mungkin pemerintah Daerah dan atau Pemerintah Desa setempat dapat prihatin dan mengambil kebijakan yang bisa menyelamatkan generasi penerus di Desa Tanjung Jere tersebut.

“Torang samua berharap, agar ada jalan keluar yang bisa menguntungkan siswa atau pelajar yang tidak lagi bersekolah sekarang, selain itu Torang tagi janji pemerintah yang telah termaktub dalam UUD 1945 dalam poinnya yang mengatakan untuk mencerdaskan anak bangsa dan kewajiban tiap warga negara menempuh pendidikan, kalau itu pun tidak terealisasi maka tidak ada fungsi pemerintah,” ujar seorang warga kepada Reporter Lentera, yang tidak ingin namanya dimediakan saat berbincang-bincang di depan lapangan sepak bola di Desa Tanjung Jere.

Saat di konfirmasi Reporter Lentera kepada Pihak Yayasan, Roslan Konoras, via telepon, pada 30 Oktober 2018 lalu, dirinya mengakui tidak tahu-menahu kalau kondisi demikian terjadi adanya dan tidak memberikan keterangan yang jelas terkait status Yayasan yang di asuhnya itu.

Sampai berita ini ditulis, Ruslan tak dapat dihubungi lagi untuk dikonfirmasikan kembali terkait hal tersebut.

Rep/Ajun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News