oleh

Wawancara, N.A: Politik tak Seperti Naik Kelas di Sekolah

LENTERA.CO.ID — Nuryadin Ahmad adalah salah satu politisi asal Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namanya dikenal luas di daratan Kabupaten Halmahera Tengah ketika tampil mengambil peran dalam memajukan partai mupun menjalankan kewajibannya sebagai wakil rakyat.

Di bangku wakil rakyat, Nuryadin dikenal memiliki wawasan luas dalam menjalankan fungsi pengawasan dibidang ekonomi, keuangan dan pembangunan daerah. Hal itu disebabkan karena dia adalah Lulusan Sarjana Ekonomi dari Universitas Khairun Ternate sehingga saat dirinya tampil berbicara dipublik melalui media cetak maupun online, kemampuannya tak dapat diragukan lagi.

Berbeda dengan anggota DPRD yang lebih memilih diam dari periode ke periode, ternyata sosok Nuryadin menyimpan prinsip politik yang menurutnya, adalah tanggung jawab atas amanah rakyat yang wajib ditunaikan.

Begitu juga di internal partai PDI Perjuangan, dia yang sudah merasa berdarah PDI Perjuangan ini selalu saja tampil konsisten dan komitmen dalam membela dan memperjuangkan ideologi partai. Dalam pergolakan politik apa pun, dimana pun, ia condong berada di garda depan dalam perjuangan partai. Sikapnya yang dikenal komitmen atas ideologi partai ini, membuatnya sulit memilih partai lain.

Beberapa pekan lalu, Lentera.co.id menemui yang bersangkutan dikediamannya, Kota Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ia meladeni sejumlah pertannyaan wawancara Lentera. Berikut kutipan wawancara bersama Nuryadin Ahmad (N.A):

LO: Sudah berapa lama di Partai Politik?

N.A: Sudah sekitar 22 Tahun berpartai di PDI Perjuangan.

LO: Banyak orang menilai Bapak sangat fanatik dengan partai itu. Bagaimana tanggapannya?

N.A: Didunia politik, butuh komitmen. Kenapa saya tidak beralih ke partai lain, karena ini komitmen saya. Komitmen saya adalah menjalankan misi dan memperjuangkan ideology partai. Tidak sekedar menjadi kendaraan untuk meraih kekuasaan, tapi lebih dari itu adalah Partai sebagai organisasi politik, patut konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat, baik melalui jalur parlemen atau non parlemen dalam hal ini partai itu sendiri.

LO: Dua periode di kursi Dewan dan kini maju lagi pada Pileg 2019. Mengapa tidak ke Provinsi?

N.A: Politik tidak seperti naik semester dibangku kuliah atau naik kelas di Sekolah. Politik butuh prinsip dan komitmen perjuangan. Dan tujuan perjuangan adalah untuk masyarakat di wilayah kita.

Jadi kenapa saya tidak naik kelas ke DPRD Provinsi, karena saya masih merasa bertanggung jawab dalam perjuangan aspirasi masyarakat serta turut mendorong kemajuan daerah melalui fungsi DPRD yang kita jalankan. Dan yang lebih penting dalam motivasi mendorong kepentingan masyarakat adalah, kita selalu dekat dengan masyarakat kita. Itu sebabnya saya tetap memilih kembali calon pada Pileg 2019.

LO: Setelah PDI Perjuangan kalah pada pileg 2019, Anda terlihat kritis atas kebijakan dari pemerintahan baru hingga ada yang menilai itu tendensius atau semacam dendam. Bagaimana tanggapan anda?

N.A: Hahahahahaha Jadi bukan begitu. Kalah menang dalam politik bagi politisi sejati, itu hal yang biasa terjadi dimana-mana. Yang menang menjalankan pemerintahan, yang kalah wajib mengontrol tapi dalam logika yang benar, sikap yang etis dan santun. Karena itu, akan menciptakan keseimbangan kekuasaan sehingga dampaknya positif bagi pemerintahan dan pembangunan masyarakat di daerah.

Berbeda kalau mengkritik atau mengkritisi karena tendensi-tendensi lain seperti tidak suka, dendam atau lainnya. Itu yang tidak elok. Itu mendingan jadi jadi politisi karena akan merusak citra berdemokrasi yang baik. Bahkan memperhambat kemajuan daerah.

Namun ketika apa yang saya lakukan dinilai seperti itu, menurut saya, itu wajar saja karena banyak pihak yang menilai saya juga bukan dari kalangan politisi. Artinya, belum memahami dunia politik. Karena itu, setiap orang pasti berbeda dalam menafsirkannya. Hanya saja, saya yakin dan percaya, Bupati dan Wakil Bupati bukan politisi kemarin sore. Kedua pimpinan daerah ini sudah matang dalam berpolitik, jadi sangat paham apa yang sering saya kritisi.

LO: Jadi Anda merasa apa yang Anda suarakan itu benar-benar menjalankan fungsi dan harapan masyaraat untuk seorang anggota Dewan?

N.A: Iya. Kemarin ada yang bilang, dimasa PDI Perjuangan berkuasa, saya tidak bicara.
Saya ingin sampaikan bahwa, di masa itu, saya berbicara, tapi dengan cara yang berbeda hanya untuk kepentingan masyarakat. Dan dimasa itu, pihak yang kalah seharusnya aktif mengontrol agar dinamika pemerintahan berjalan dengan hati-hati, ikhtiar dan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

Sekarang, saya pada posisi partai yang kalah pada Pilkada kemarin, wajib berperan aktif dalam menjalankan fungsi pengawasan, selain fung Legislasi dan anggaran di DPRD. Sebab menurut saya, jika membangun dinamika seperti ini, maka akan tercipta keseimbangan politik pemerintahan yang baik.

LO: Jadi sebenarnya politik menurut Anda itu apa dan bagaimana?

N.A: Secara teori, Plato menyebut “Politik adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang terbaik di dalam politik, manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat hidup dengan rasa kemasyarakatan yang akrab dan hidup dalam suasana moralitas”. Ada juga yang mengatakan, Politik itu seni memainkan kemungkinan-kemungkinan.

Olehnya, saya juga merasa bahwa politik itu seni dalam memainkan nalar dan aksi strategi. Dan tujuannya untuk masyarakat sekaligus berfungsi bagaimana berinteraksi yang baik dengan masyarakat, termasuk memberikan pemahaman yang benar dan beradab.

LO: Lalu bagaimana menurut Anda soal politik dan kekuasaan?

N.A: Politik sebagai alat meraih kekuasaan, tentu tujuaannya menciptakan kesejahteraan masyarakat. Jadi kekuasaan bukanlah tujuan politik. Sebaliknya, politik dengan menggunakan keuasaan hanya untuk kemaslahatan.

Begitu juga demokrasi. Demokrasi itu proses, bukanlah tujuan. Jadi setiap momen pemilu, baik itu Pilpres, Pileg maupun Pilkada, orang yang benar-benar paham gaya berpolitik dan berdemokrasi, itu pasti mengakhiri perbedaan setelah momen itu berakhir.

LO: Bagaimana dengan perkembangan konsolidasi Pileg 2019 dari sekarang?

N.A: Saat ini baru selesai Pleno KPU soal Daftar Calon Tetap (DCT). Dan saya selaku Caleg Nomor urut 1 pada PDI Perjuangan dengan Daerah Pemilihan II (Patani-Gebe), tentu baru memulai sosialisasi terbuka. Namun tentang konsolidasi, jauh sebelumnya sudah dilakukan.

LO: Pileg 2014, Anda pernah kalah. Di 2019, apa Anda yakin menang ?

N.A: Saya sangat yakin 100% menang. Kenapa begitu?

Contoh Bupati sekarang. Bertarung dua kali, kalah. Ketiga kali, menang karena belajar dari kesalahan atas kekalahan sebelumnya. Begitu juga dengan saya. Kenapa saya yakin 100% menang karena jauh sebelumnya saya mengevaluasi kesalahan, kekuarangan dan kelalaian saya sehingga kali ini, di 2019 insha allah tidak akan terulang.*

BIODATA SINGKAT:

NURYADIN AHMAD, Istri dari : Rahayu Fahri
Anak : 1. Hafidz N. Ahmad
: 2. Fatirian N. Ahmad

Pendidikan :
Unkhair : 2005
SMU N 2 Patani Lulus : 1999
SMP N 1 Patani Lulus : 1996
SD Inpres Wailegi : 1993

Karir Partai di Kabupaten Halmahera Tengah:
1. Wakil Ketua Bidang Kaderisasi, DPC PDI Perjuangan Periode 2010 – 2015
2. Sekertaris DPD PDI Perjuanagan Periode 2015-2020
3. Sekertaris BSPN Cabang.

Jabatan di DPRD
1. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD 2009 – 2014
2. Anggota Banggar DPRD
3. Ketua Bapemperda DPRD 2014-2019
4. Anggota Komisi 3 DPRD

Riwayat Organisasi Mahasiswa & Pemuda :
1. Pemgurus Komisariat Fekon Unkhair Ternate 2003-2004
2. Bendahara Umum HMI Cabang Ternate 2005-2006
3. Bendahara DPD KNPI Malut 2015-2017
4. Wakil Ketus Pengurus Wilayah PP Malut (sekarang)

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News