oleh

Kiprah Drs. Muhammad Hasan Bay, MM: Dari Bisnis ke Panggung Politik

Sukses untuk Mengabdi, atau Gagal dan Jadi Anak Durhaka

LENTERA.CO.ID – Sosok Muhammad Hasan Bay (MHB) terbilang cukup sibuk. Selain mengurus sejumlah usaha di berbagai tempat, politisi Partai Golkar ini juga aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan. Meski begitu, saat suasana weekend pada Sabtu, 8 September 2018 kemarin, MHB tetap menyediakan waktu memenuhi janji dengan tim Lentera.co.id untuk bincang-bincang di rumahnya, JIn Ki Hajar Dewantara Kelurahan Kampung Pisang, Kota Ternate.

Tim Lentera.co.id yang datang ke rumahnya pagi itu diterima MHB dengan senyum. Dia menawarkan pilihan tempat ngobrol; ruang tamu atau di belakang. Karena ingin lebih santai, kami pun memilih di belakang. Ternyata, di halaman belakang rumahnya benar-benar membuat suasana terasa cair. Dengan hanya mengenakan kaos oblong, MHB tampak sederhana dalam keseharian. Dia pun memint seorang pria di bagian dapur untuk menyuguhkan 3 cangkir kopi. Dan situ, kami pun kemudian berbincang dalam suasana santai. Bagaimana perjalanan hidupnya menekuni dunia bisnis hingga ke panggung politik? Berikut kutipan bincang-bincang Lentera.co.id dengan MHB.

(SAN BAY, Sapaan Karib Drs. Muhammad Hasan Bay, MM saat mengawali aktifitas pagi dengan membaca sejumlah informasi melalui media cetak maupun online)

Di zaman Anda, sebagian besar orang sekolah untuk bisa menjadi PNS. Apalagi gelar akademik sampai S2. Tapi kenyataan Anda justru terjun ke dunla bisnls, gimana ceritanya?

MHB: Ceritanya memang panjang. Titik kesadaran saya terhadap kehidupan dimulai dari kondisi ekonomi keluarga. Ayah saya yang hanya guru mengaji di sebuah madrasah di Tidore tidak memili pendapatan tetap selain pemberian orang tua murid secara ikhlas Selebihnya, beliau berkebun untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Namun, beliau selalu mendorong agar anak-anaknya harus sukses. Sayangnya, dorongan itu hanya bisa dengan semangat dan doa karena ekonomi keluarga memang tidak memungkinkan.

Selepas SMA di Tidore tahun 1981, ayah saya berharap agar saya bisa merantau ke Jayapura mengikuti jejak kakak-kakak saya yang mulai berkarir sebagai PNS. Beliau modali perjalanan saya dengan tiket kapal ke Jayapura. Perjalanan ke Jayapura harus melalui Manado Justru di Manado, saya tertarik untuk menimba ilmu dengan mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Kota Kawanua. Tetapi sumber pembiayaan untuk studi di sini tidak memungkinkan sehingga saya memutuskan untuk ke Jayapura

Kenapa harus ke Jayapura?

MHB: Salah satu alasan karena di sana ada kakak saya yang sudah bekerja. Seminggu perjalanan dengan kapal, saya akhirnya tiba di Jayapura. Begitu sampai, saya kemudian mendaftar di Universitas Yapis Jayapura. Saya selalu ingat pesan ayah; tidak boleh pulang jika tidak membawa ijazah sarjana. Apalagi, setelah ketemu kakak yang saat itu PNS Golongan 2 A, pesan yang sama juga disampaikan. Bagi saya, ini motivasi. Maka, pada Mei 1981, saya mendaftar kuliah dengan modal uang yang saya bawa sebesar Rp 9.000. Ternyata uang pendaftarannya Rp. 15.000,_ karena uang belum cukup sayapun menunda pendaftaran.

Tidak mungkin saya harus membebani ayah saya di kampung yang notabene tidak punya pendapatan tetap. Saya kemudian ketemu tetangga kakak saya, orang Bugis-Makassar yang jadi mandor di pelabuhan. Serlama 3 hari saya mengikuti tetangga dan menjadi buruh pelabuhan. Alhamdulillah, saya memperoleh uang Rp 2.000 sehingga kurang Rp 4.000 lagi bisa melunasi biaya pendafataran kuliah. Saya meminta bantuan dari kakak untuk pinjamkan sisa uang yang harus saya setor ke kampus. Saya bilang ke kakak, cukup sekali saja pinjamkan ke saya, setelah itu saya akan bekerja untuk membiayai studi

Kenapa harus bekerja sambil kuliah?

MHB: Ketika itu saya punya dua alasan. Pertama, bekerja untuk membiayai studi. Saya tidak bisa membebani orang tua karena sudah cukup beliau bersusah payah menghidupi kami sampai tamat SMA. Alasan kedua, saya berangkat dari pengalaman kakak-kakak saya yang saat itu, 3 di antara 7 bersaudara justru sudah jadi PNS. Kalau saya ingin jadi PNS saat itu sungguh sangat gampang. Pada tahun 1980-an, Papua masih butuh banyak pegawai. Tetapi bercermin dari 3 kakak saya yang ketika itu sudah jadi PNS tapi harus bersusah payah mengatur ekonomi keluarga, sehingga muncul pikiran saya kuliah sambil kerja adalah cara efektif untuk belajar menata masa depan. Keduanya saling menopang. Kuliah menuntut saya harus bekerja cari uang sekaligus membangun relesi. Kalau bekerja tentu memberi pengalaman untuk meraih sukses di kemudian hari. Dalam benak saya; sukses untuk mengabdi pada orang tua, atau gagal dan menjadi anak durhaka.

Apa maksudnya sukses untuk mengabdi atau gagal dan jadi anak durhaka?

MHB: Kalau saja ketika itu saya harus jadi PNS dan hidupnya sama dengan kakak-kakak saya, berarti saya tidak mampu membahagiakan orang tua dengan topangan materi. Tetapi jika tidak kuliah dan gagal menempuh karir, itu artinya saya menyia-nyiakan mimpi orang tua apalagi pesan bisa pulang dengan membawa ijazah sarjana. Ini menjadi motivasi kuat, saya harus kuliah dan bekerja. Maka, untuk melatih kemandirian, saya pun bekerja serabutan. Jadi buruh panggul di pelabuhan, penolak gerobak, kenek truk, dan lain-lain. Sampai suatu ketika, teman kuliah saya yang bekerja di Bea Cukai menawarkan peluang menjual barang-barang elektronik melalui kredit sistem dor to door. Saya menangkasp peluang tersebut. Di sini awal dari motivasi saya terjun ke bisnis. Ketika itu, saya menawarkan kulkas dan televisi ke seorang pengusaha asal Bugis- Makassar, Direktur PT Cahaya Timur. Waktu itu, dia memperhatikan buku yang saya bawa dan bertanya kenapa bawa buku. Saya jelaskan bahwa saya sedang menimba ilmu di salah satu universitas. Dia kemudian menawarkan bekerja di perusahaannya.

Ternyata, kehadiran saya di perusahaan itu juga sebagai motivasi sang direktur kepada dua anaknya yang hanya lulus SMA. Dia ingin memperlihatkan kepada kedua anaknya bahwa ada orang yang secara ekonomi pas-pasan toh mau kuliah, sementara kedua anaknya yang ekonomi orang tuanya lebih dari cukup malah tak mau kuliah.

Selama tiga tahun saya bekerja di perusahaan itu, hanya setahun saya makan gaji. Selebihnya, saya memang menjadi bagian dari bisnis kontruksi yang dijalankan poerusahaan tersebut. Saya bilang ke bo saya tidak sekadar bekerja tapi ingin belajar. Dalam benak saya, tak mungkin selamanya harus jadi kopral. Maka kemudian, saya diberi tanggung jawab borong rehab rumah. Setelah itu, beberapa pekerjaan yang lebih besar diserahkan ke saya. Setiap kali bos bersama keluarga liburan ke Makassar, seluruh pekerjaan diberi tangggung jawab kepada saya. Kadang-kadang, dia juga mengajak saya liburan ke Makassar. Suatu ketika dia meminta saya untuk membuat akte perusahaan. Tapi waktu itu saya belum berpikir punya perusahaan sendiri karena ada pekerjaan lain yang harus saya konsentrasikan yakni menyelesaikan studi S1.

Bagaimana kemudian memilih bisnis di bidang konstruksi?

MBH: Selain karena pengalaman menangani proyek konsruksi bersama bos yang telah memberikan kepercayaan kepada saya, juga karena pengalaman menyedihkan ketika bekerja jadi buruh bangunan dengan upah Rp 1.250 per hari. Memasuki hari keenam, sekitar pukul 11.00 siang saya lapar dan makan di warung belakang base camp. Begitu kembali, saya dimarahi tukang. Saya kemudian melanjutkan pekerjaan campuran pasir. Tiba-tiba sebuah batu tela mendarat di punggung saya. Waktu itu si tukang sedang memasang batu tela di bagian atas. Saya tak tahu, apakah sengaja atau kebetulan. Tapi, saya kemudian merasa tidak nyaman dan memutuskan kembali ke rumah dengan berjalan kaki sekitar 10 km tanpa mengambil upah kerja yang 5 hari. Dalam perjalanan, saya capek dan beristirahat di depan Kantor Gubernur. Ketika itu, saya melihat aktifitas para PNS. Lalu muncul perang dalam bathin saya antara terus mengejar idealisme atau berhenti dan memilih jadi PNS. Tapi tekad saya sudah bulat untuk tidak menjadi PNS melainkan pengusaha. Pengalaman menyedihkan itu juga membuat saya bertekad agar dalam hidup ke depan tidak diperintah tukang tapi saya yang perintah tukang.

Karena itu, sewaktu bekerja dengan bos dan setelah akta perusahaan saya buat tahun 1986 dan kemudian mandiri pada tahun 1990-an saya terus menjaga hubungan dengan sesama mitra, pemerintah belajar mengambil keputusan dan bagaimana menciptakan kinerja yang berkualitas. Saya banyak bergaul dengan pengusaha Tionghoa, Bugis-Makassar, dan Padang. Banyak ilmu yang saya peroleh dari mereka yang memang terkenal punya naluri sebagai saudagar.

Tahun 2000, CV yang saya miliki ditingkatkan status sebagai PT dan mulai mendapat pekerjaan bangunan kantor besar. Saya geluti bisnis secara mandiri setelah menyelesaikan studi S1. Alhamdulillah bisnis saya juga berjalan. Bukan saja di bidang konstruksi, saya juga menggeluti usaha jasa akomodasi dan lain-lain. Ini berkat upaya menciptakan relationship.

Dengar-dengar setelah sukses, Anda gemar bersedekah?

MHB: Sebetulnya, pertanyaan ini tak elok saya jawab dengan lantang. Karena sesungguhnya, apa yang ditanyakan itu adalah bentuk amalan setiap hamba Allah yang tidak rmenuntut publikasi sehingga menimbulkan riya’. Namun, tentu sebagai motivasi, saya kira selain untuk keluarga, rezeki yang diberikan Allah kepada kita, ada di antaranya merupakan hak orang-orang yang membutuhkan Saya berawal dari keluarga miskin dan begitu merasakan susahnya cari hidup. Maka, ibaratnya saya dulu adalah kulit kacang. Setelah jadi kacang, tak harus melupakan kulitnya.

Anda justru sukses di negeri rantau (Papua), kenapa harus kembali ke Maluku Utara?

MHB: Ada dua alasan. Pertama, saya kembali ke kampung halaman dalam rangka mendukung suksesi Pemilihan Walikota Tidore dengan mengusung figur Pak Mahifa. Kebetulan ketika itu saya adalah Ketua Kerukunan Keluarga Maluku Utara di Papua. Saat itu, berkunjung ke Maluku Utara, khususnya Tidore merupakan kerinduan tersendiri.

Yang kedua, sebagai putra daerah, kita tentu tidak boleh serakah dengan menikmati sukses di tanah rantau. Membangun daerah juga menjadi sebuah tanggung jawab moral. Karena itu, setelah suksesi pilwako Tidore dengan terpilihnya Pak Mahifa, saya akhirnya memutuskan untuk berkiprah di Maluku Utara. Selain mengembangkan bisnis, saya juga masuk dalam sistem melalui jalur legislatif untuk mengawal poembangunan di daerah ini.

Secara ekonomi, Anda sudah terbilang mapan, kenapa harus terjun lagi ke panggung politik?

MBH: Politik itu salah satu alat perjuangan untuk masyarakat. Menjadi anggota legislatif bukan untuk mencari makan di sana namun bagaimana mengawasi eksekutif dalam menelorkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Bagi saya, jadi anggota DPRD adalah bentuk pengabdian. Apalagi kalau di Maluku Utara ini pembangunan belum maksimal menyentuh langsung dengan kepentingan publik.

Jadi, menurut Anda, untuk jadi anggota DPRD, kita harus mapan secara ekonomi?

MHB: Tidak juga begitu maksud saya. Tetapi setidaknya kalau kita memiliki latar belakang ekonomi yang cukup, maka wujud pengabdian kepada masyarakat bisa totalitas. Kita tidak berpikir pekerjaan sebagai anggota dewan sebagai sumber pendapatan. Dengan begitu kita lebih bebas menyuarakan kepentingan publik dan bisa menghindari kompromi-kompromi yang tidak berpihak kepada masyarakat.

Kabarnya Anda bakal kembali maju dalam kontestasi calon anggota legislatif 2019 lewat Partai Golkar?

MHB: Ya benar. Tapi kali ini bukan di dapil I, tempat kelahiran saya seperti pada periode sebelumnya. Saya sebenarnya meminta Dapil lI Tidore-Halteng-Haltim. Pada Pileg 2014 lalu, saya terpilth dengan perolehan suara terbanyak di dapil ini. Dan, memang Partai Golkar di Dapil Ill menempat dua wakilnya di DPRD Maluku Utara.

Meski awalnya saya berharap maju di dapil III, namun keputusan DPP Golkar memutuskan saya masuk di Dapil Ternate-Halbar. Sebagai kader partai, saya tentu harus patuh pada keputusan itu. Selain itu sebagai pengusaha yang sudah terbiasa dengan tantangan, saya justru melilhat Dapil Ternate-Halbar merupakan tantangan baru. Saya menyukai tantangan ini. Kalau di dunia bisnis, saya sudah sekian kali mencoba keluar dari zona aman melalui intensifikasi bisnis di bidang non konstruksi. Di dunia politik saat ini, tantangan baru itu ada pada Dapil; Ternate-Halbar.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News